Pandemi Covid-19 telah mengubah pola konsumsi semua orang terhadap sesuatu, salah satunya belanja kebutuhan. Kebutuhan yang masih cukup memiliki banyak peminat yaitu, pakaian. Belanja online menjadi jalan yang paling banyak dilakukan. Hal ini karena banyaknya sistem yang memudahkan setiap orang untuk berjualan, seperti open reseller baju, dropship dan sebagainya.

Bisnis Open Reseller Baju

Sistem eko ​​e-tailing berkembang pesat, dengan beberapa pasar utama, termasuk pemimpin global seperti Amazon, Tmall, JD.com dan Secoo.com, memperebutkan pangsa pasar dan pengenalan merek. Menyelaraskan strategi pasar mereka dengan ekspektasi pelanggan yang terus tumbuh, para pelaku industri busana muslim berusaha untuk meningkatkan proses pemesanan dan pemenuhan mereka.

open reseller baju 2

Seiring dengan belanja online, key opinion leader (KOLs) semakin populer di dunia e-commerce. Dengan banyak pengikut di media sosial, KOL dan postingan mereka dengan cepat menjadi salah satu cara pemasaran paling efektif untuk memengaruhi permintaan dan mencapai komunikasi yang ditargetkan.

Dengan mengumpulkan daftar reseller gamis branded dari berbagai titik kontak konsumen (misalnya media sosial, situs web perusahaan, iklan digital, toko fisik, dan pusat pelanggan), produsen dan perancang pakaian dapat mengidentifikasi kebutuhan konsumen dengan lebih baik. Mereka juga dapat menarik kesimpulan dari data dan merespons dengan cepat tren mode yang berubah dengan cepat. Sejalan dengan transformasi digital ini, teknologi produksi canggih seperti pencetakan digital dan laser, rajutan 3D, penjahitan semi-otomatis, dan robotika membiakkan generasi baru pabrik pintar untuk memproduksi item tepat waktu dan sesuai permintaan dalam jumlah kecil.

Pasar daratan yang menguntungkan terus menarik perhatian baik perusahaan pakaian dan merek fesyen Hong Kong maupun asing. Beberapa pemain asing mapan termasuk Champion, Mango, Nike, Skechers dan Zadig & Voltaire serta merek yang berkantor pusat di Hong Kong seperti Giordano, G2000, 6IXTY8IGHT, I.T dan Initial berkembang pesat di daratan, baik online maupun offline. Beberapa merek fesyen mewah, seperti SMCP Group (membawa merek seperti Sandro, Maje dan Claudie Pierlot), Italian Moschino dan German Karl Lagerfeld, juga berpasangan dengan platform e-tailing besar China untuk memberikan layanan omni ‑ channel. Saat pasar semakin matang, konsumen China menjadi lebih sadar mode dan sadar akan merek dan kualitas open reseller baju.

Label pribadi atau in-house telah menjadi alat pemasaran yang semakin efektif di kalangan pengecer garmen, terutama ketika banyak konsumen di pasar maju masih enggan untuk berbelanja. Untuk membedakan sekaligus meningkatkan citra open reseller baju, pengecer besar mulai memberikan penekanan yang lebih kuat pada label mereka sendiri. Pengecer terkenal seperti H&M, Marks & Spencer, Orsay, Palmers, Pimkie, Springfield dan Kookai memiliki label pribadi mereka sendiri. Bahkan aksesori fesyen busana muslim, telah mencapai kesuksesan besar di AS. Dengan konsumen yang mencari label pribadi pada pakaian sehari-hari seperti jeans, aksesori, dan T-shirt, pintu terbuka untuk memasok item pakaian ini ke pemilik label pribadi.

Konsumen menjadi lebih praktis, bijaksana, dan sadar sosial. Dorongan untuk menanamkan keberlanjutan dalam industri open reseller baju diharapkan dapat merangsang munculnya bahan baru dan metode produksi yang inovatif, sementara konsep ekonomi melingkar akan diterapkan secara lebih luas di seluruh rantai pasokan. Ide-ide seperti koleksi akhir masa pakai dan produk busana mulsim akan memungkinkan penggunaan kembali dan daur ulang serat dan kain tekstil. Dengan latar belakang ini, produsen pakaian semakin mencari sertifikasi untuk standar ketertelusuran, seperti OE Blended, standar OE 100, dan Standar Tekstil Organik Global (GOTS). Sedangkan jumlah fasilitas bersertifikat GOTS menunjukkan peningkatan 35% dari 5.760 pada 2018 menjadi 7.765 fasilitas pada 2019, meliputi 70 negara dan 3 juta pekerja.

Tags: